Sumsel Merdeka – Jakarta, Hutang pemerintah per akhir juni 2025 mencapai Rp 9000 triliun lebih, hutang tersebut harus dibayar supaya jumlahnya berkurang.
Pemerintah kini makin memperketat anggaran dan memastikan anggaran di belanjakan tepat sasaran, tepat waktu dan efektif upaya untuk mengurangi jumlah hutang yang ada sekarang.
Dikutip dari liputan6.com, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan strategi pemerintah untuk memperbaiki pengelolaan utang negara yang mencapai Rp 9.138,05 triliun per akhir Juni 2025.
Jumlah tersebut setara dengan 39,86 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Purbaya menegaskan, langkah utama yang akan dilakukan adalah memastikan anggaran negara dibelanjakan secara tepat sasaran, tepat waktu, dan tanpa kebocoran.
“Strategi yang pertama adalah anggarannya dibelanjakan tepat sasaran, tepat waktu, nggak ada kebocoran, optimalkan dampak anggaran ke perekonomian,” kata Purbaya, Selasa (28/10/2025).
Ia menjelaskan, efektivitas penggunaan anggaran menjadi kunci agar setiap rupiah yang dibelanjakan mampu memberikan dampak maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Harapannya dengan seperti itu maka pertumbuhan ekonomi lebih cepat, pajaknya juga akan lebih besar income-nya, sehingga saya bisa menekan defisit dari situ,” ujarnya.
Dengan pengelolaan yang efisien, Purbaya berharap pertumbuhan ekonomi bisa lebih cepat. Dampaknya, penerimaan pajak akan meningkat, dan pada akhirnya defisit anggaran dapat ditekan tanpa mengorbankan program prioritas.
“Ke depan, kalau ekonominya bisa tumbuh lebih cepat lagi, dengan perbaikan juga di sektor penerimaan, bea cukai dan juga pajak, harusnya kita bisa expect perbaikan di tax-to-GDP ratio,” ujarnya.
Lebih lanjut, Purbaya menilai bahwa perbaikan sektor riil menjadi kunci untuk meningkatkan rasio pajak terhadap PDB (tax-to-GDP ratio).
Ia memperkirakan, jika sektor riil mampu tumbuh sesuai desain yang telah direncanakan, maka tax ratio dapat naik antara setengah hingga satu persen. Kenaikan itu berpotensi menambah penerimaan negara minimal Rp 100 triliun.
Purbaya juga mengaku terus turun langsung ke lapangan untuk memastikan hambatan-hambatan di sektor riil bisa berkurang signifikan. Ia menegaskan, kunjungannya ke berbagai daerah bukan tanpa tujuan, melainkan bentuk komitmen untuk mendorong aktivitas ekonomi agar bergerak lebih cepat.
“Jadi, saya ke sana-kemari bukan nggak ada kerjaan, karena saya bertaruh untuk triwulan ini paling nggak laju pertumbuhan ekonominya lebih cepat dibanding triwulan-triwulan sebelumnya. Kita targetkan di atas 5 persen, kalau bisa syukur,” ujarnya.
Selain fokus pada fiskal dan sektor riil, Purbaya juga menyoroti tren positif belanja masyarakat yang mulai meningkat.
Berdasarkan data Bank Sentral, penjualan ritel mulai naik, seiring meningkatnya permintaan kendaraan bermotor dan kredit konsumsi. Hal itu menunjukkan adanya perbaikan daya beli dan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi.
“Sepertinya sudah membaik, kalau lihat data dari Bank Sentral Katanya retail sales-nya mulai naik. Kalau anecdotal evidence dari orang-orang di daerah sepertinya sudah naik juga, ada yang jual mobil, mobilnya mulai laku, jual motor sudah ada permintaan kredit dll, sepertinya sudah bergerak,” pungkasnya. (Eky)



